Sabtu, 17 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
andalastourism.comandalastourism.com
andalastourism.com - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Sebulan Tinggal di Desa Wisata Penglipuran, Ini ya...

Sebulan Tinggal di Desa Wisata Penglipuran, Ini yang Berubah

Sebulan mencoba hidup di Desa Penglipuran Bali mengubah cara saya melihat rutinitas, kebersihan, dan arti cukup.

Jujur, awalnya gue cuma iseng. Niatnya sih liburan biasa, seminggu, foto-foto di gang rapi Desa Penglipuran, terus pulang. Tapi karena satu dan lain hal — bosan kerja remote dari kamar kos, pengen suasana beda — gue nekat booking homestay sebulan di sana. Bukan hotel, bukan villa. Kamar tamu di rumah keluarga Pak Wayan, di desa adat yang katanya salah satu terbersih di dunia itu.

Nah, tulisan ini bukan panduan wisata lengkap. Ini lebih ke catatan apa yang berubah dari gue setelah sebulan ngejalanin hidup versi Penglipuran. Buat kamu yang baru mau coba slow travel pertama kali, mungkin relate.

Hari Pertama: Kaget Bukan Main

Sampai di sana sore hari, gue langsung ngerasa ada yang aneh. Bukan aneh buruk. Tapi gang-gangnya bersih banget sampai gue ngerasa bersalah bawa tas yang rodanya kotor. Nggak ada sampah plastik nyempil di selokan. Nggak ada bau asap kendaraan. Yang ada cuma suara sapu lidi dan wangi bunga kamboja.

Malam pertama gue susah tidur. Bukan karena tempatnya nggak nyaman, tapi karena terlalu sunyi. Di kota, gue biasa tidur ditemani suara motor lewat dan knalpot. Di sini, jam sembilan malam udah kayak jam dua pagi di Jakarta.

Adaptasi yang Nggak Gue Duga

Tiga hari pertama, gue masih bawa kebiasaan lama. Bangun jam sembilan, scroll HP sambil sarapan, baru keluar kamar jam sebelas. Tapi Pak Wayan tiap pagi udah rapi nyapu halaman sebelum jam enam. Istrinya udah masak buat tamu. Anaknya udah berangkat sekolah jalan kaki.

Gue ngerasa malu sendiri. Akhirnya gue coba bangun jam lima pagi. Awalnya berat, tapi lama-lama jadi kebiasaan. Dan ternyata pagi di Penglipuran itu beda banget. Kabutnya tipis, udara dinginnya bikin mata melek, dan suara ayam jago sahut-sahutan kayak alarm alami.

Yang Berubah Setelah Dua Minggu

Memasuki minggu kedua, ada beberapa hal yang mulai berubah dari gue. Nggak dramatic, tapi kerasa.

  • Gue jadi lebih pelan. Makan nggak sambil nonton YouTube. Jalan nggak sambil cek notifikasi. Duduk di beranda pun bisa setengah jam tanpa ngapa-ngapain.
  • Gue lebih sadar sampah. Di desa ini, buang puntung sembarangan itu hampir kayak dosa sosial. Warga bakal lihat, dan kamu bakal malu sendiri.
  • Gue mulai kenal tetangga. Di kota, setahun tinggal di apartemen bisa nggak kenal siapa pun di lantai yang sama. Di sini, tiga hari udah diajak ngopi sama bapak-bapak yang lagi bikin penjor.

Yang paling kerasa sih poin pertama. Di kota, gue selalu ngerasa kurang waktu. Di sini, waktu kayak melar. Sehari rasanya panjang, dan gue nggak ngerasa dikejar apa-apa.

"Di sini, kalau kamu buru-buru, kamu yang salah. Bukan tempatnya." — kata Pak Wayan suatu sore, sambil nyeruput kopi.

Momen yang Bikin Gue Mikir Ulang

Ada satu kejadian di minggu ketiga yang masih nempel di kepala. Waktu itu gue ikut kerja bakti bersih-bersih pura. Bukan karena disuruh, tapi karena penasaran. Ternyata hampir semua kepala keluarga datang. Remaja, bapak-bapak, bahkan anak kecil bawa sapu kecil.

Nggak ada yang main HP. Nggak ada yang ngeluh. Mereka kerja sambil bercanda, selesai semua, terus makan bareng di bale. Simpel banget, tapi gue ngerasa ada sesuatu yang hilang dari hidup gue di kota — rasa jadi bagian dari sesuatu.

Di kota, gue punya banyak grup WhatsApp. Tapi nggak ada yang beneran ngajak gue kerja bakti. Semua sibuk sendiri, termasuk gue.

Soal Uang dan Harapan

Banyak yang nanya, sebulan di Penglipuran habis berapa? Jujur, lebih murah dari yang gue kira. Homestay sekitar 200-250 ribu per malam, tapi karena sebulan, gue dapat harga khusus. Makan tiga kali sehari bisa di rumah Pak Wayan dengan tambahan 50 ribu. Transportasi paling mahal, karena buat ke Bangli atau Kintamani harus sewa motor.

Tapi yang bikin gue bertahan bukan soal murahnya. Justru karena gue nggak pengen buru-buru pulang. Di kota, gue selalu punya target. Di sini, target gue cuma satu: nggak lupa bersyukur.

Setelah Sebulan, Apa yang Gue Bawa Pulang?

Hari terakhir, gue duduk di beranda sambil nulis jurnal. Bukan jurnal produktif, cuma catatan kecil. Dan gue sadar beberapa hal:

  • Gue nggak butuh banyak barang buat bahagia. Selama sebulan, isi tas gue cuma segitu-gitu aja, dan gue baik-baik saja.
  • Kebersihan itu bukan soal petugas kebersihan, tapi soal kebiasaan bersama.
  • Pelan bukan berarti malas. Pelan bisa berarti sadar.

Balik ke kota, gue nggak langsung berubah jadi orang suci. Masih suka scroll HP, masih kadang buru-buru. Tapi ada satu hal yang gue bawa: gue mulai bangun lebih pagi, dan gue mulai nyapa tetangga.

Buat kamu yang baru mau coba slow travel pertama kali, saran gue simpel. Jangan mulai dari sebulan. Mulai dari seminggu dulu. Pilih desa wisata yang warganya masih aktif kegiatan adat. Jangan bawa ekspektasi resort. Bawa niat buat belajar, bukan cuma liburan.

Karena kadang, yang kita cari bukan tempat baru. Tapi versi diri kita yang lebih tenang, yang nggak sempat muncul waktu kita tinggal di kota yang serba cepat.

Kalau kamu penasaran sama Penglipuran, datang aja. Tapi datanglah dengan hati yang mau dengerin. Bukan cuma buat foto di gang yang rapi itu.

Tags: desa wisata penglipuran bali solo traveling slow travel

Baca Juga: comtotovip.xyz