Gue inget banget waktu itu. Anak baru masuk TK, cicilan motor belum lunas, dan tabungan cuma tersisa angka yang bikin keringat dingin. Tapi di grup WhatsApp keluarga, sepupu udah pada posting foto di Labuan Bajo. Ada yang lagi di Sumba. Ada yang pamer sunrise di Bromo. Sementara gue? Masih ngitung ongkos parkir di minimarket.
Pernah nggak kamu ngerasa kayak gitu? Pengen jalan, tapi dompet kayak lagi puasa. Apalagi buat keluarga kecil di Jakarta, Bekasi, atau Surabaya — biaya hidup aja udah bikin napas berat. Tapi percaya deh, traveling sama keluarga itu bukan cuma milik mereka yang rekeningnya tebal. Kita cuma perlu beda cara main.
Dua kubu: yang nekat berangkat vs yang nunggu "nanti"
Di dunia per-traveling-an keluarga, ada dua tipe orang. Pertama, yang selalu bilang "nanti kalau udah punya duit lebih". Kedua, yang nekat berangkat walau budget mepet, tapi pinter ngatur.
Baca juga: Jangan Asal Pindah ke Desa Wisata, Pensiunan Sering Salah Kira
Baca Juga: americanchillpodcast.com
Gue dulu tipe pertama. Selalu nunda. "Nanti kalau udah gajian." "Nanti kalau anak udah gede." "Nanti kalau udah nggak ada utang." Tahu nggak? Nanti itu nggak pernah datang. Yang datang malah harga tiket makin naik, anak makin cepat besar, dan kita makin capek kerja.
Istri gue yang akhirnya nyadar duluan. Suatu malam dia bilang, "Kita mah bukan nunggu kaya, kita cuma nunggu berani." Bener juga. Sejak itu, kita mulai coba jalan-jalan kecil-kecilan. Nggak langsung ke Bali. Nggak langsung ke Raja Ampat. Mulai dari yang paling deket dulu.
Mulai dari radius 100 kilometer
Ini trik paling sederhana yang gue rasa banyak orang lupa. Keluarga di Jakarta? Coba Bogor, Sentul, atau Puncak. Tinggal di Surabaya? Malang dan Batu cuma dua jam. Di Bandung? Subang dan Garut nunggu. Nggak usah mikir jauh-jauh dulu.
Kenapa radius deket penting? Karena biaya transportasi itu biasanya yang paling nguras kantong. Kalau kamu bisa tekan ongkos jalan, sisa budget bisa dipakai buat makan enak atau nginep yang lebih nyaman. Anak juga nggak capek di perjalanan — ini penting banget buat keluarga kecil.
Gue dan istri pernah coba satu malam di penginapan murah di Ciwidey. Total budget di bawah 700 ribu buat bertiga. Anak seneng banget lihat kebun teh. Kami seneng karena nggak harus mikir cicilan bulan depan.
Waktu terbatas? Justru itu senjata rahasia
Banyak orang mikir liburan harus seminggu. Salah besar. Buat keluarga kecil di kota besar, waktu itu justru barang mewah yang susah dicari. Suami-istri kerja, anak sekolah, weekend dipakai buat urusan rumah. Jadi gimana?
Jawabannya: liburan pendek tapi sering. Weekend satu malam, atau bahkan day trip — berangkat pagi, balik malam. Kedengeran melelahkan? Awalnya iya. Tapi lama-lama jadi kebiasaan, dan anak justru lebih happy karena nggak terlalu lama duduk di mobil.
Gue punya temen yang tiap bulan ngajak anaknya ke museum atau kebun binatang lokal. Nggak mahal. Tapi anaknya jadi punya banyak cerita. Bandingin sama yang setahun sekali ke luar kota tapi cuma foto-foto di depan hotel.
"Liburan itu bukan soal seberapa jauh, tapi seberapa sering kamu ngasih anak pengalaman baru."
Modal mepet? Ini yang gue pelajari dari kesalahan sendiri
Gue pernah bikin kesalahan klasik. Berangkat liburan tanpa hitungan, terus di tengah jalan panik karena uang tinggal dikit. Nggak enak banget. Anak minta es krim, kita cuma bisa senyum kecut. Sejak itu, gue punya beberapa aturan main yang nggak pernah gue langgar.
- Tentukan budget total dulu, baru pilih tempat. Jangan kebalik. Kalau udah pengen ke suatu tempat, biasanya susah nahan diri buat nggak ngeluarin duit lebih.
- Sisihkan 20 persen dari budget buat dana darurat. Namanya juga perjalanan, pasti ada aja yang nggak terduga. Ban bocor, anak demam, atau tiba-tiba pengen jajan lebih.
- Cari penginapan yang ada dapurnya. Ini penyelamat banget buat keluarga kecil. Masak mie atau sarapan sendiri bisa hemat ratusan ribu.
- Bawa bekal dari rumah. Nggak usah gengsi. Anak-anak biasanya lebih lahap makan bekal ibu daripada makanan restoran yang mahal.
- Manfaatkan promo, tapi jangan terjebak. Promo tiket murah itu bagus, asal kamu memang udah rencana ke sana. Bukan malah jadi alasan buat pergi ke tempat yang nggak kamu butuhin.
Oh iya, satu lagi. Jangan malu liburan di tempat yang "nggak hits". Kadang tempat wisata lokal yang sepi justru lebih nyaman buat anak kecil. Nggak antre, nggak desek-desekan, dan tiketnya murah. Gue pernah nemu kebun strawberry di pinggiran kota yang jauh lebih seru daripada tempat wisata viral yang penuh orang.
Anak kecil bukan alasan buat nunda
Banyak orang tua mikir bawa anak kecil itu ribet. Gue nggak munafik, memang ribet. Tapi ada bedanya antara ribet yang bikin kapok dan ribet yang bisa diatur. Kalau kamu bawa anak di bawah lima tahun, pilih tempat yang nggak butuh banyak jalan kaki. Pastikan ada toilet bersih. Bawa mainan kesayangan. Selesai.
Yang paling penting: atur ekspektasi. Liburan sama anak kecil itu bukan buat foto estetik atau konten Instagram. Ini soal ngasih anak pengalaman baru, dan ngasih diri sendiri jeda dari rutinitas. Kalau udah paham itu, semuanya jadi lebih ringan.
Jadi, pilih yang mana?
Kalau kamu tanya gue sekarang, gue milih berangkat dengan modal mepet tapi terencana. Bukan karena gue anti nabung. Nabung itu penting. Tapi jangan sampai nabung jadi alasan buat nggak pernah jalan sama sekali.
Keluarga kecil di kota besar itu punya tekanan hidup yang nggak main-main. Kerja, macet, cicilan, harga sembako. Liburan kecil-kecilan tiap beberapa bulan itu bisa jadi katup penyelamat. Nggak harus mahal. Nggak harus jauh. Yang penting kamu dan keluarga punya cerita baru buat dikenang.
Mulai dari yang paling deket rumah kamu minggu depan. Coba satu malam. Bawa bekal. Hitung budget dengan tenang. Terus lihat muka anak kamu waktu lihat sesuatu yang baru. Dijamin, rasa capek kerja seminggu langsung luntur.
Dan kalau ada yang bilang "liburan kok cuma segitu, sih?", jawab aja: "Iya, tapi kami bahagia." Nggak usah bandingin perjalanan kamu sama orang lain. Setiap keluarga punya ritme sendiri. Yang penting kamu mulai, bukan cuma nunda.
===